Perihal Orang dalam Hukum

by wirawan on December 23, 2008

Dalam hukum, perkataan orang (persoon) berarti pembawa hak dan kewajiban (subyek) di dalam hukum. Dimaksud dengan orang atau subyek hukum, dapat diartikan sebagai manusia (naturlijkpersoon) atau badan hukum (rechtspersoon).

Manusia (naturlijkpersoon) sebagai subyek hukum:
Pada saat sekarang ini setiap manusia manusia dapat dikatakan sebagai pembawa hak dan kewajiban, oleh karena berbudakan telah tidak dilakukan lagi dalam peradaban sekarang ini.
Berlakunya seseorang sebagai pembawa hak adalah dimulai sejak ia dilahirkan dan berahir pada saat ia meninggal. Malah jika perlu, anak di dalam kandungan dapat dianggap telah ada asal saja kemudian ia dilahirkan hidup.

Kecakapan bertindak dalam hukum:
Meskipun menurut hukum setiap orang tiada yang dikecualikan memiliki hak dan kewajiban, namun tidak setiap orang dapat bertindak sendiri dalam melaksanakan hak dan kewajibannya. Oleh hukum, ada beberapa golongan orang yang dinyatakan tidak cakap untuk melakukan perbuatan hukum atau melaksanakan hak dan kewajibannya. Mereka ini adalah orang-orang yang belum dewasa (belum cukup umur) dan orang-orang yang ditaruh di bawah pengampuan (curatele), dan kepadanya harus selalu diwakili oleh orang tua/walinya (bagi yang belum dewasa) dan oleh kuratornya (bagi yang ditaruh di bawah pengampuan.

Kekuasaan orang tua dan perwalian:
Menurut BW, di bawah umur apabila belum mencapai usia 21 tahun, kecuali ia sudah kawin. Orang yang masih dibawah umur ini ada dibawah kekuasaan orang tuanya. Selanjutnya apabila salah seorang dari orang tuanya meninggal dunia maka ia berada dalam perwalian orang tuanya yang masih hidup. Demikian pula bila orang tuanya bercerai maka ia akan berada dalam perwalian salah seorang orang tuanya. Bila kedua orang tuanya meninggal maka ia ada dalam perwalian orang lain.

Badan Hukum (rechtspersoon):
Di samping orang-orang (manusia), badan-badan atau perkumpulan-perkumpulan dapat juga memiliki kekayaan sendiri dan ikut serta dalam lalu-lintas hukum, yaitu juga memiliki hak dan kewajiban serta dapat digugat ataupun menggugat di depan Hakim. Badan atau perkumpulan ini dinamakan “badan hukum” atau rechtspersoon, misalnya Perseroan Terbatas (PT), Yayasan, Koperasi dan sebagainya.

Domicili:
Setiap orang menurut hukum harus mempunyai tempat tinggal yang dapat dicari. Tempat tersebut dinamakan domicili. Demikian pula halnya dengan Badan Hukum harus mempunyai tempat kedudukan. Bagi orang yang tidak mempunyai tempat kediaman tertentu, domisilinya dianggap ada di tempat di mana ia sungguh-sungguh berada. Pentingnya domisili atau tempat kedudukan ini adalah untuk menetapkan beberapa hal, misalnya: di mana seorang harus dipanggil, Pengadilan mana yang memiliki kompetensi terhadap dirinya, dan sebagainya.

Be Sociable, Share!

{ 8 comments… read them below or add one }

surya March 14, 2009 at 4:49 am

makacih…..tapi saya masih blum mengetahui secra luas knapa badan hukum di katakan sebagai subjek hkum….dan teori2 atau pasti ada yang sangat melatarbelakangi semua itu(bdn hkm di katakan sebagai subjek hkum…but thanskks for u …
mhsizwa UR (universitas Riau)

Reply

alekduma July 28, 2009 at 2:28 pm

pertanyaan saya jika boleh

apakah orang meninggal masih bisa disebut sebagai subjek Hukum, kasus ada si A meminjamkan Tanah ke B tanpa ikatan tertulis…. meninggalnya si A dengan ini si A sudah mewariskan Tanah ke ahli waris lewat Notaris, lalu terjadi sengketa tanah Antara Ahli Waris dengan Si B, Si B tidak mau mengembalikan Tanah dgn Alasan Masih di Sewakan Tanah itu kepada orang lain…. yang dimaksud SUBJEK HUKUM diantara semua yang terlibat mana menurut pengertian bapak…. terimakasih atas jawabanya

aleks Semester II Fak. Hukum

Reply

met sh February 2, 2010 at 4:02 pm

boleh ga tau pengertian orang yang pailit menurut hukum, n bagaiman kedudukan orang idiot dan orang gila dalam hukum

Reply

met sh February 2, 2010 at 4:03 pm

boleh ga tau pengertian orang yang pailit menurut hukum, n bagaiman kedudukan orang idiot dan orang gila dalam hukum
fakultas hukum perdata

Reply

dani March 30, 2011 at 6:10 am

bukan hukum orang idot kali gelo sih lu hen leng hu buakan gitu sih yayayay man sih ya kali ya sih ya

Reply

sentavia dinda September 20, 2011 at 5:14 pm

permisi ,saya mau mengajukan pertanyaan tentang hukum ,apabila ada seorang suami menjual rumahnya setelah istrinya meninggal dunia ,tp sebelumnya rumah itu hak milik atas nama si istri ,lalu si istri mewariskannya kepada 2 orang anaknya ,dan suami menjual rumahnya tanpa pengetahuan 2 orang anaknya .dan jual beli dilakukan tanpa adanya tanda tangan dari 2 orang anak nya(ahli waris) .yg saya mau tanya apakah jual beli rumah ini sah atau tidak /dan apa masih bisa direbut kembali hak ahli waris itu ?jika bisa bagaimana cara terbaiknya ?terima kasih .

Reply

misry October 15, 2011 at 7:16 pm

jika orang gila/ idiot melakukan tindak pidana, apakah, bisa di hukum

Reply

Hardy Halbi Nuralim December 5, 2011 at 10:18 am

assalamualaikum wr. wb.

sy hardy dari fakultass hukum umi makassar. blog mas ketut ini sangat bagus dan sangat bermanfaat sekali buat semua anak hukum seindonesia. mungkin saya bisa belajar lebih jauh dari mas ketut buat bikin blog belajar ilmu hukum di http://www.hardyhukumumi10.wordpress.com saya ini bisa lebih lengkap lagi, saya salut sama mas ketut dan salam kenal.

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: